There was an error in this gadget
SELAMAT DATANG DI BLOG ASUHAN KEPERAWATAN SEMOGA BERMANFAATKADEK WAHYU ADI PUTRAASUHAN KEPERAWATAN GRATIS

Thursday, 10 November 2011

PROPOSAL DIARE

2.1 Konsep Dasar Penyakit Diare
2.1.1 Pengertian
Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cairan atau setengah cair (setengah padat), dengan demikian kandungan air pada tinja lebih banyak dari biasanya (normal 100-200 ml per jam tinja). (Daldiyono, 1990).
Diare adalah keadaan dimana seorang individu mengalami atau berisiko mengalami defekasi sering dengan feses cair, atau feses tidak berbentuk. (Carpenito, 2000)
Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan jumlah tinja yang lebih banyak dari biasanya (normal 100-200 ml per jam tinja), dengan tinja berbentuk cair atau setengah cair (setengah padat). (Mansjoer, 2001).
Diare adalah peningkatan keenceran dan frekuensi tinja (Corwin, 2000).





2.1.2 Anatomi dan Fisiologi Sistem Pencernaan

Keterangan
1. Kelenjar ludah
2. Parotis
3. Submandibularis (bawah rahang)
4. Sublingualis (bawah lidah)
5. Rongga mulut
6. Tekak / Faring
7. Lidah
8. Kerongkongan / Esofagus
9. Pankreas
10. Lambung
11. Saluran pankreas
12. Hati
13. Kantung empedu
14. Usus dua belas jari (duodenum)
15. Saluran empedu
16. Usus tebal / Kolon
17. Kolon datar (tranverse)
18. Kolon naik (ascending)
19. Kolon turun (descending)
20. Usus penyerapan (ileum)
21. Sekum
22. Umbai cacing
23. Poros usus / Rektum
24. Anus



Gambar 2.1 Anatomi Saluran Pencernaan. (Aderson, Paul .1996).
(Icon Learning Systems All Rights Reserved. 2003).
Saluran Pencernaan
Saluran pencernaan makanan merupakan saluran yang menerima makanan dari luar dan mempersiapkannya untuk diserap oleh tubuh dengan jalan proses pencernaan (pengunyahan, penelanan dan pencampuran) dengan enzim dan zat cair yang terbentang mulai dari mulut (oris) sampai anus (Sayaifuddin, 1997)
a. Mulut, Tenggorokan & Kerongkongan.
Mulut merupakan jalan masuk untuk sistem pencernaan dan sistem pernafasan. Bagian dalamdari mulut dilapisi oleh selaput lendir.
Saluran dari kelenjar liur di pipi, dibawah lidah dan dibawah rahang mengalirkan isinya ke dalam mulut. Di dasar mulut terdapat lidah, yang berfungsi untuk merasakan dan mencampur makanan. Di belakang dan dibawah mulut terdapat tenggorokan (faring).Pengecapan dirasakan oleh organ perasa yang terdapat di permukaan lidah. Penciuman dirasakan oleh saraf olfaktorius di hidung. Pengecapan relatif sederhana, terdiri dari manis, asam, asin dan pahit. Penciuman lebih rumit, terdiri dari berbagai macam bau. Makanan dipotong-potong oleh gigi depan (incisivus) dan dikunyah oleh gigi belakang (molar, geraham), menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah dicerna. Ludah dari kelenjar ludah akan membungkus bagian-bagian dari makanan tersebut dengan enzim-enzim pencernaan dan mulai mencernanya. Pada saat makan, aliran dari ludah membersihkan bakteri yang bisa menyebabkan pembusukan gigi dan kelainan lainnya. Ludah juga mengandung antibodi dan enzim (misalnya lisozim), yang memecah protein dan menyerang bakteri secara langsung.
Proses menelan dimulai secara sadar dan berlanjut secara otomatis. Epiglotis akan tertutup agar makanan tidak masuk ke dalam pipa udara (trakea) dan ke paru-paru, sedangkan bagian atap mulut sebelah belakang (palatum mole, langit-langit lunak) terangkat agar makanan tidak masuk ke dalam hidung.
Kerongkongan (esofagus) merupakan saluran berotot yang berdinding tipis dan dilapisi oleh selaput lendir. Kerongkongan menghubungkan tenggorokan dengan lambung. Makanan didorong melalui kerongkongan bukan oleh gaya tarik bumi, tetapi oleh gelombang kontraksi dan relaksasi otot ritmik yang disebut dengan peristaltik.
b. Lambung
Lambung merupakan organ otot berongga yang besar dan berbentuk seperti kandang keledai, terdiri dari 3 bagian yaitu kardia, fundus dan antrum.
Makanan masuk ke dalam lambung dari kerongkongan melalui otot berbentuk cincin (sfingter), yang bisa membuka dan menutup. Dalam keadaan normal, sfingter menghalangi masuknya kembali isi lambung ke dalam kerongkongan.
Lambung berfungsi sebagai gudang makanan, yang berkontraksi secara ritmik untuk mencampur makanan dengan enzim-enzim.
Sel-sel yang melapisi lambung menghasilkan 3 zat penting:
1) Lendir
2) Asam klorida
3) Prekursor pepsin (enzim yang memecahkan protein).
Lendir melindungi sel-sel lambung dari kerusakan oleh asam lambung dan enzim.
Setiap kelainan pada lapisan lendir ini (apakah karena infeksi oleh bakteri Helicobacter pylori atau karena aspirin), bisa menyebabkan kerusakan yang mengarah kepada terbentuknya tukak lambung.
Asam klorida menciptakan suasana yang sangat asam, yang diperlukan oleh pepsin guna memecah protein. Keasaman lambung yang tinggi juga berperan sebagai penghalang terhadap infeksi dengan cara membunuh berbagai bakteri.
Pelepasan asam dirangsang oleh:
a) Saraf yang menuju ke lambung.
b) Gastrin (hormon yang dilepaskan oleh lambung).
c) Histamin (zat yang dilepaskan oleh lambung).
Pepsin bertanggung jawab atas pemecahan sekitar 10% protein. Pepsin merupakan satu-satunya enzim yang mencerna kolagen, yang merupakan suatu protein dan kandungan utama dari daging.
Hanya beberapa zat yang bisa diserap langsung dari lambung (misalnya alkohol dan aspirin) dan itupun hanya dalam jumlah yang sangat kecil.
c. Usus halus
Lambung melepaskan makanan ke dalam usus dua belas jari (duodenum), yang merupakan bagian pertama dari usus halus.
Makanan masuk ke dalam duodenum melalui sfingter pilorus dalam jumlah yang bisa dicerna oleh usus halus. Jika penuh, duodenum akan mengirimkan sinyal kepada lambung untuk berhenti mengalirkan makanan. Duodenum menerima enzim pankreatik dari pankreas dan empedu dari hati. Cairan tersebut (yang masuk ke dalam duodenum melalui lubang yang disebut Sfingter Oddi) merupakan bagian yang penting dari proses pencernaan dan penyerapan. Gerakan peristaltik juga membantu pencernaan dan penyerapan dengan cara mengaduk dan mencampurnya dengan zat yang dihasilkan oleh usus.
Beberapa senti pertama dari lapisan duodenum adalah licin, tetapi sisanya memiliki lipatan-lipatan, tonjolan-tonjolan kecil (vili) dan tonjolan yang lebih kecil (mikrovili). Vili dan mikrovili menyebabkan bertambahnya permukaan dari lapisan duodenum, sehingga menambah jumlah zat gizi yang diserap. Sisa dari usus halus, yang terletak dibawah duodenum, terdiri dari jejunum dan ileum. Bagian ini terutama bertanggungjawab atas penyerapan lemak dan zat gizi lainnya. Penyerapan ini diperbesar oleh permukaannya yang luas karena terdiri dari lipatan-lipatan, vili dan mikrovili.
Dinding usus kaya akan pembuluh darah yang mengangkut zat-zat yang diserap ke hati melalui vena porta. Dinding usus melepaskan lendir (yang melumasi isi usus) dan air (yang membantu melarutkan pecahan-pecahan makanan yang dicerna). Dinding usus juga melepaskan sejumlah kecil enzim yang mencerna protein, gula dan lemak. Kepadatan dari isi usus berubah secara bertahap, seiring dengan perjalanannya melalui usus halus.
Di dalam duodenum, air dengan cepat dipompa ke dalam isi usus untuk melarutkan keasaman lambung. Ketika melewati usus halus bagian bawah, isi usus menjadi lebih cair karena mengandung air, lendir dan enzim-enzim pankreatik.
d. Pankreas
Pankreas merupakan suatu organ yang terdiri dari 2 jaringan dasar :
1) Asini, menghasilkan enzim-enzim pencernaan
2) Pulau pankreas, menghasilkan hormon.
Pankreas melepaskan enzim pencernaan ke dalam duodenum dan melepaskan hormon ke dalam darah. Enzim-enzim pencernaan dihasilkan oleh sel-sel asini dan mengalir melalui berbagai saluran ke dalam duktus pankreatikus. Duktus pankreatikus akan bergabung dengan saluran empedu pada sfingter Oddi, dimana keduanya akan masuk ke dalam duodenum.
Enzim yang dilepaskan oleh pankreas akan mencerna protein, karbohidrat dan lemak. Enzim proteolitik memecah protein ke dalam bentuk yang dapat digunakan oleh tubuh dan dilepaskan dalam bentuk inaktif. Enzim ini hanya akan aktif jika telah mencapai saluran pencernaan. Pankreas juga melepaskan sejumlah besar sodium bikarbonat, yang berfungsi melindungi duodenum dengan cara menetralkan asam lambung.
e. Hati
Hati merupakan sebuah organ yang besar dan memiliki berbagai fungsi, beberapa diantaranya berhubungan dengan pencernaan. Zat-zat gizi dari makanan diserap ke dalam dinding usus yang kaya akan pembuluh darah yang kecil-kecil (kapiler). Kapiler ini mengalirkan darah ke dalam vena yang bergabung dengan vena yang lebih besar dan pada akhirnya masuk ke dalam hati sebagai vena porta.
Vena porta terbagi menjadi pembuluh-pembuluh kecil di dalam hati, dimana darah yang masuk diolah.
Darah diolah dalam 2 cara:
1) Bakteri dan partikel asing lainnya yang diserap dari usus dibuang
2) Berbagai zat gizi yang diserap dari usus selanjutnya dipecah sehingga dapat digunakan oleh tubuh.
Hati melakukan proses tersebut dengan kecepatan tinggi, setelah darah diperkaya dengan zat-zat gizi, darah dialirkan ke dalam sirkulasi umum. Hati menghasilkan sekitar separuh dari seluruh kolesterol dalam tubuh, sisanya berasal dari makanan. Sekitar 80% kolesterol yang dihasilkan di hati digunakan untuk membuat empedu. Hati juga menghasilkan empedu, yang disimpan di dalam kandung empedu.
f. Kandung empedu & Saluran empedu
Empedu mengalir dari hati melalui duktus hepatikus kiri dan kanan, yang selanjutnya bergabung membentuk duktus hepatikus umum. Saluran ini kemudian bergabung dengan sebuah saluran yang berasal dari kandung empedu (duktus sistikus) untuk membentuk saluran empedu umum. Duktus pankreatikus bergabung dengan saluran empedu umum dan masuk ke dalam duodenum. Sebelum makan, garam-garam empedu menumpuk di dalam kandung empedu dan hanya sedikit empedu yang mengalir dari hati.
Makanan di dalam duodenum memicu serangkaian sinyal hormonal dan sinyal saraf sehingga kandung empedu berkontraksi.
Sebagai akibatnya, empedu mengalir ke dalam duodenum dan bercampur dengan makanan.
1) Empedu memiliki 2 fungsi penting:
a) Membantu pencernaan dan penyerapan lemak
b) Berperan dalam pembuangan limbah tertentu dari tubuh, terutama hemoglobin yang berasal dari penghancuran sel darah merah dan kelebihan kolesterol.

2) Secara spesifik empedu berperan dalam berbagai proses berikut :
a) Garam empedu meningkatkan kelarutan kolesterol, lemak dan vitamin yang larut dalam lemak untuk membantu proses penyerapan.
b) Garam empedu merangsang pelepasan air oleh usus besar untuk membantu menggerakkan isinya.
c) Bilirubin (pigmen utama dari empedu) dibuang ke dalam empedu sebagai limbah dari sel darah merah yang dihancurkan.
d) Obat dan limbah lainnya dibuang dalam empedu dan selanjutnya dibuang dari tubuh.
e) Berbagai protein yang berperan dalam fungsi empedu dibuang di dalam empedu.
Garam empedu kembali diserap ke dalam usus halus, disuling oleh hati dan dialirkan kembali ke dalam empedu. Sirkulasi ini dikenal sebagai sirkulasi enterohepatik. Seluruh garam empedu di dalam tubuh mengalami sirkulasi sebanyak 10-12 kali/hari. Dalam setiap sirkulasi, sejumlah kecil garam empedu masuk ke dalam usus besar (kolon). Di dalam kolon, bakteri memecah garam empedu menjadi berbagai unsur pokok. Beberapa dari unsur pokok ini diserap kembali dan sisanya dibuang bersama tinja


g. Usus besar
Usus besar terdiri dari :
1) Kolon asendens (kanan)
2) Kolon transversum
3) Kolon desendens (kiri)
4) Kolon sigmoid (berhubungan dengan rektum).
Bakteri di dalam usus besar juga berfungsi membuat zat-zat penting, seperti vitamin K. Bakteri ini penting untuk fungsi normal dari usus. Beberapa penyakit serta antibiotik bisa menyebabkan gangguan pada bakteri-bakteri di dalam usus besar. Akibatnya terjadi iritasi yang bisa menyebabkan dikeluarkannya lendir dan air, dan terjadilah diare.
h. Rektum & Anus
Rektum adalah sebuah ruangan yang berawal dari ujung usus besar (setelah kolon sigmoid) dan berakhir di anus. Biasanya rektum ini kosong karena tinja disimpan di tempat yang lebih tinggi, yaitu pada kolon desendens. Jika kolon desendens penuh dan tinja masuk ke dalam rektum, maka timbul keinginan untuk buang air besar. Orang dewasa dan anak yang lebih tua bisa menahan keinginan ini, tetapi bayi dan anak yang lebih muda mengalami kekurangan dalam pengendalian otot yang penting untuk menunda buang air besar.
Anus merupakan lubang di ujung saluran pencernaan, dimana bahan limbah keluar dari tubuh. Sebagian anus terbentuk dari permukaan tubuh (kulit) dan sebagian lainnya dari usus. Suatu cincin berotot (sfingterani) menjaga agar anus tetap tertutup.









Gambar 2.2 Anatomi Rektum dan Anus.
(Icon Learning Systems All Rights Reserved. 2003)

Gambar 2.2 Anatomi Rektum dan Anus
(Icon dan Learning System All Right Reserver. 2003)









i. Fisiologis Pencernaan
Sistem pencernaan (mulai dari mulut sampai anus) berfungsi sebagai berikut :
1) Menerima makanan
2) Memecah makanan menjadi zat-zat gizi (suatu proses yang disebut pencernaan)
3) Menyerap zat-zat gizi ke dalam aliran darah
4) Membuang bagian makanan yang tidak dapat dicerna dari tubuh.
Jumlah makanan yang dicerna seseorang dan jenisnya adalah tergantung dari kemauan dan seleranya. Mekanisme ini ada dalam tubuh seseorang dan merupakan sistem pengaturan yang otomatis.
Makanan masuk melalui mulut kemudian dikunyah oleh gigi, gigi anterior (insisivus) menyediakan kerja memotong yang kuat dan gigi posterior (molar), kerja menggiling. Semua otot rahang yang bekerja dengan bersama- sama dapat mengatupkan gigi dengan kekuatan sebesar 55 pound pada insisivus dan 200 pound pada molar.
Setelah itu makanan ditelan, menelan merupakan mekanisme yang kompleks, terutama faring yang hampir setiap saat melakukan fungsi lain disamping menelan makanan dan hanya diubah dalam beberapa detik dalam traktus untuk mendorong makanan.
Esophagus terutama berfungsi untuk menyalurkan makanan dari faring ke lambung dan gerakannya diatur secara khusus untuk melakukan fungsi tersebut.
Fungsi lambung ada tiga, yaitu penyimpanan sejumlah besar makanan sampai makanan dapat diproses didalam duodenum, pencampuran makan ini dengan sekresi setengan cair yang disebut dengan kimus. Pengosongan makanan dengan lamat dari lambung ke usus halus pada kecepatan yang sesuai untuk pencernaan dan absorpsi yang tepat oleh usus halus.
Makanan akan digerakkan dengan melakukan gerakan pristaltik. Pristaltik usus yang normal adalah 12 kali per menit. Makanan kemudian akan didorong ke usus besar dan akan diabsorpsi baik air, elektrolit, dan penimbunan bahan feces di rektum sampai dapat dikeluarkan melalui anus melalui proses defekasi.
(Sloane, 2004)
2.1.3 Etiologi
Menurut Suriadi (2001) penyebab Gastroentritis (diare) dapat di bagi menjadi beberapa faktor :
a. Faktor Infeksi
1) Infeksi Internal
Infeksi enteral; infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama dari diare, meliputi infeksi bakteri (Vibrio, Eschericia coli, Salmonella, Shigella, Campylobacter, Yersinia, Aeromonas, dan sebagainya), infeksi virus (Enterovirus, Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus, dan lain-lain), infeksi parasit (E. hystolytica, G.lamblia, Tricomonas hominis) dan jamur (Canida albicans).
2) Infeksi Parentral
Infeksi parenteral; merupakan infeksi di luar sistem pencernaan yang dapat menimbulkan diare seperti: otitis media akut, tonsilitis, bronkopneumonia, ensefalitis dan sebagainya.
4) Faktor Malabsorpsi
Malabsorbsi karbohidrat: disakarida (intoleransi laktosa, maltosa dan sukrosa), monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa). Intoleransi laktosa merupakan penyebab diare yang paling penting. Di samping itu dapat pula terjadi malabsorbsi lemak dan protein.
5) Faktor Makanan
Diare dapat terjadi karena mengkonsumsi makanan basi, beracun dan alergi terhadap jenis makanan tertentu.
6) Faktor Psikologis
Diare dapat terjadi karena faktor psikologis (rasa takut dan cemas).
7) Bukan Faktor Infeksi
a. Alergi makanan
b. Gangguan metabolik atau malabsorbsi ; Penyakit celiac, Cystic fibrosis pada pankreas.
c. Iritasi lambung pada saluran pencernaan oleh makanan.
d. Obat-obatan ; Antibiotik.
e. Penyakit usus ; Colitis ulcerative, Crohn disease, Enterocolitis.
f. Emosianal atau stress.
g. Obstruksi usus.
h. Penyakit infeksi ; Otitis media, Infeksi saluran nafas atas, Infeksi saluran kemih.
8) Penyebab Khusus Penyakit Diare
Ada beberapa virus, bakteri, dan parasit yang menyebabkan penyakit diare. Rotavirus merupakan virus paling penting yang menyebabkan diare. Penyebab umum dari infeksi bakteri meliputi Eschericia coli, Salmonella, Shigella, Camylobakter, dan spisies Yersinia. Infeksi parasit yang penting meliputi Giardia dan spesies Cryptosporidium, dan Entamoeba histolitika. (Brunner & Suddarth, 2001).
2.1.4 Pathofisiologi
Penyebab Diare adalah masuknya virus (Rotravirus, Adenovirus enteris, Virus Norwalk), Bakteri atau toksin (Compylobacter, Salmonella, Escherihia Coli, Yersinia dan lainnya), parasit (Biardia Lambia, Cryptosporidium). Beberapa mikroorganisme patogen ini menyebabkan infeksi pada sel-sel, memproduksi Enterotoksin atau Cytotoksin dimana merusak sel-sel, atau melekat pada dinding usus pada Diare.
Penularan gastroenteritis bisa melalui fekal-oral dari satu klien ke klien yang lainnya. Beberapa kasus ditemui penyebaran patogen dikarenakan makanan dan minuman yang terkontaminasi.
Mekanisme dasar penyebab timbulnya diare adalah gangguan osmotik (makanan yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus, isi rongga usus berlebihan sehingga timbul diare ). Selain itu menimbulkan gangguan sekresi akibat toksin di dinding usus, sehingga sekresi air dan elektrolit meningkat kemudian terjadi diare. Gangguan mutilitas usus yang mengakibatkan hiperperistaltik dan hipoperistaltik. Akibat dari diare itu sendiri adalah kehilangan air dan elektrolit (dehidrasi) yang mengakibatkan gangguan asam basa (asidosis metabolik dan hipokalemia), gangguan gizi (intake kurang, output berlebih), hipoglikemia dan gangguan sirkulasi darah.
2.1.5 Tanda dan gejala
Menurut Baughman (2000), tanda dan gejala penyakit Gastroenteritis adalah:
a. Peningkatan frekuensi dan kandungan cairan dalam feses
b. Kram abdomen, distensi, bising usus (borborigmus), anoreksia dan rasa haus
c. Kontraksi spasmodik yang sakit dari anus dan mengejan tidak efektif (tenesmus) mungkin terjadi setiap defekasi
d. Sifat dan awitannya sangat eksplosit dan bertahan. Gejala yang terkait adalah dehidrasi dan kelemahan
e. Feses yang banyak mengandung air menandakan penyakit usus halus
f. Feses yang lunak, semi padat berkaitan dengan kelainan kolon
g. Feses berwarna ke abu-abuan menandakan malabsobsi usus
h. Mukus dan pus dalam feses menunjukkan enteritis imflamasi/ kolitis
i. Bercak minyak dalam pada air toilet merupakan diagnostik dari insufisiensi pankreas
j. Diare noktural mungkin merupakan manifestasi neuropati diabetik
2.1.6 Pemeriksaan Penunjuang
Menurut Iin (2004), pemeriksaan penunjang penyakit Gastroenteritis adalah:
a. Pemeriksaan Laboraturium
1) LED
2) Hipokalsemia
3) Avitominosis D
4) Serum albumen tinggi
5) Fosfatase alkali
6) Masa protombin
b. Radiologi
c. Koloskopi
2.1.7 Komplikasi
Beberapa komlikasi dari Gastrointeritis menurut Brunner & Suddarth (2001) adalah:
a. Disritmia jantung akibat hilangnya cairan dan elektrolit secara bermakna (khususnya kalium)
b. Pengeluaran urine kurang dari 30 ml/jam selama 2-3 jam berturut-turut
c. Kelemahan otot
d. Hipotensi, anoreksia, dan mengantuk
e. Malnutrisi energi protein (akibat muntah dan diare jika lama atau kronik)
2.1.8 Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaam Diare Akut
Pada orang dewasa, penatalaksanaan diare akut akibat infeksi terdiri atas :
1) Rehidrasi sebagai prioritas utama pengobatan empat hal peniting yang perlu diperhatikan adalah :
a). Jenis Cairan
Pada diare akut yang ringan dapat diberikan oralit. Diberikan cairan ringer laktat bila tak tersedia diberikan cairan NaCl isotonik ditambah 1 ampul Na bikarbonat 7,5% 50 ml.

b). Jumlah Cairan
Jumlah cairan yang diberikan sesuai dengan jumlah cairan yang dikeluarkan.
Kehilangan cairan tubuh dapat dihitung dengan beberapa cara :
Tabel : 2.1 Metode Pierce yang berdasarkan keadaan klinis
Derajat dehidrasi Kebutuhan cairan (X Kg BB)
Ringan
Sedang
Berat 50 %
8 %
10 %
(Manjoer, 2000)

c). Jalan masuk atau cara pemberian cairan
Rute pemberian cairan pada orang dewasa dapat dipilih oral atau IV
d). Jadwal pemberian cairan
2) Identifikasi penyebab diare akut karena infeksi secara klinis. Tentukan jenis diare koleriform atau disentriform. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan penunjang yang terarah
a). Terapi simtomatik
Obat anti diare bersifat simtomatik dan berikan sangat hati-hati atas pertimbangan yang rasional.
Tabel : 2.2 Sifat beberapa golongan obat anti diare
Sifat Golongan
Antimotilitas dan sekresi usus



Anfiemetik Turunan oprat
Difenoksilat (Lomitol )
Loperamid (Imodium )
Kodein Hcl/ fosfat
Metoklopropami D
proklorprazin
Domperidon
(Manjoer, 2000)

b) Terapi Definitif
Pemberian edukasi yang sangat jelas sangat penting sebagai langkah pencegahan. Higiene perorangan, sanitasi lingkungan dan imunisasi melalui faksinasi sangat berarti. Selain terapi farmakologi yang tertera pada tabel berikut.
Tabel : 2.3 daftar obat dan dosis penyebab diare
Penyebab Obat Dosis (per hari ) Jangka
Waktu
Kolera eltor



E. Coli
Salmonelosis


Shignelosis

Amebiasis



Giardiasis


Kandidosis
Virus
Tetrasiklin
Kortimoksazol
Kloramfenikol
Tak memerlukan terapi
Ampisilin
Kortimoksazol
Siprofloksasin
Ampisilin
Kloramfenikol
Metronidazol
Tinidazol
Secnidazol
Tetrasiklin
Kuinakrin
Klorokoin
Metronodazol
Mikosfatin
Simtomatik dan Suportif 4 x 500 mg
2 x 3 tab ( awal)
2 x 2 tab
4 x 500 mg
4 x 1 g
4 x 500 mg
2 x 500 mg
4 x 1 g
4 x 500 mg
4 x 500 mg
1 x 2 g
1 x 2 g
4 x 500 mg
3 x 100 mg
3 x 100 mg
3 x 250 mg
3 x 500.000 unit
3 hari

6 hari
7 hari
10-14 hari
10-14 hari
3-5 hari
5 hari
5 hari
3 hari
3 hari
3 hari
10 hari
7 hari
5 hari
7 hari
10 hari

(Mansjoer, 2000)

b. Pentalaksanaan diare kronik
1). Simtomatik
a). Rehidrasi
Oralit , cairan infus yaitu Ringer Laktat, Dekstrose 5% , dekstrose dalam salin.
b). Antispasmodik, antikolinergik (antagonis stimuluskoli- nergik pada reseptor muskarinik)
Tabel 2.4 Contoh Obat antispasmodik
Contoh Obat Dosis
Papaverin
Mebeverin
Propantelin
Hiosion N – butil bromida
(Buscopan) 3x/hari
3-4 tab/hari
3 x 15 mg / hari
3 x 1 tab/ hari
(Mansjoer, 2000)

c). Obat anti diare
(1) Obat antimotilitas dan seksresi usus
(a) Loperamid ( imodium) : 4 mg peroral ( dosis awal ) lalu tiap tinja cair diberikan 2 mg, dengan dosis maksimal 16 mg / hari.
(b) Difenoksilat ( lomotil) : 4 x 5 mg ( 2 tablet)
(c) Kodein foafat : 15-60 mg tiap 6 jam
(2) Okteroid (sandostatin)
Telah dicoba dengan hasil memuaskan pada diare sekretorik
(3) Obat anti diare yang mengeraskan tinja dan absorpsi zat, yaitu :
(a) Arang / Charcoal aktif ( norit ) : 1-2 tablet , diualang sesuai kebutuhan .
(b) Campuran Kaolin dan morfin (Mengandung 700 mikrogram / 10 anhy drous morfin).

2) Antiemetik (metoklopropamid, proklorprazin, domperidon)
3) Vitamin dan mineral , tergantung kebutuhan yaitu:
a) Vitamin B12 asam folat, Vitamin A, Vitamin K
b) Preparat besi, zinc dan lain-lain
4) Obat ekstak enzim pankreas
5) Alumunium hidroksida, memiliki efek konstipasi dan mengikat asam empedu.
6) Fenitiazin dan nikotinak, menghambat sekresi anion usus.
7) Kausal
Pengobatan keusal diberikan pada infeksi meupun noninfeksi. Pada diare kronik penyebab infeksi, obat diberikan berdasarkan etiologinya.
Tabel : 2.5. Daftar obat dan dosis berdasarkan penyebab diare kronik
Etiologi Obat Dosis Jangka Waktu
Shigella SP



H. Jejuni

Salmonelosis


C. dificille

ETEC Ampisilin
Kormoksazol
Siprofloksasin
tetrasiklin
Eritromisin
Siprofloksasin
Kloramfenikol
Peflasin
Siprofloksasin
Vankomisin
Metronidazol
Trimetoprim
Siprofloksasin
Kortimoksazol 2 x 1 g
2 x 2 tab
2 x 500 mg
4 x 500 mg
4 x 250-500 mg
2 x 500 mg
4 x 500 mg
1 x 400 mg
2 x 500 mg
4 x 125 mg
3-4 x 1,5-2 g
3 x 200 mg
1 x 500 mg
2 x 2 ta 5-7 hari
1 den
1 dem
1 dem
1 dem
5 hari
14 hari
7 hari
7 hari
7-10 hari
1 dem
3 hari
1 dem
1 dem
(Manjoer, 2000).


2.2 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Pada Klien Gastroenteritis
Proses keperawatan merupakan cara yang sistematis yang dilakuka oleh perawat bersama klien dalam menentukan kebutuhan asuhan keperawatan dengan melakukan pengkajian, menentukan diagnosa, merencanakan tindakan yang akan dilakukan, melaksanakan tindakan serta mengevaluasi hasil asuhan yang telah diberikan dengan berfokus pada klien, berorientasi pada tujuan pada setiap tahap saling terjadi ketergantungan dan saling berhubungan.
(Hidayat, 2004).
Asuhan keperawatan adalah suatu rangkaian kegiatan yang diberikan melalui praktek keperawatan kepada keluarga. Untuk membantu menyelesaikan masalah kesehatan keluarga tersebut dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan. (Depkes RI, 1998)
2.2.1 Pengkajian
Pengkajian adalah upaya mengumpulkan data secara lengkap dan sistematis untuk dikaji dan dianalisis sehingga masalah kesehatan dan keperawatan yang dihadapi pasien baik fisik, mental, sosial, maupun spiritual dapat ditentukan (Ali, 1997).





Langkah-langkah dalam pengkajian meliputi :
a. Pengumpulan Data
1) Identitas
a). Identitas Klien
Penyakit Gastroenteritis akut dapat menyerang pada semua manusia baik laki-laki maupun perempuan dan tidak mengenal status dan golongan usia.
2) Keluhan Utama
Biasanya pasien datang dengan keluhan BAB lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi feces encer berwarna kehijauan dan disertai demam.
3) Riwayat Penyakit Sekarang
Pada umumnya pasien Buang Air Besar (BAB) dengan konsistensi cair berkali-kali baik atau tanpa muntah, tinja dapat bercampur lendir atau darah, keluhan lain yang mungkin didapatkan yaitu nafsu makan menurun, suhu badan meningkat, volume deuresis menurun dan gejala penurunan kesadaran.
4) Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat penyakit dahulu perlu ditanyakan pada diare kronik dan berulang. Riwayat operasi intra abdomen sering mengakibatkan perlengketan dengan statis ringan yang kadang-kadang menimbulkan pertumbuhan bakteri berlebihan, sehingga timbul kembung, flatulen dan diare, selain itu keterangan tentang obat yang diminum perlu ditanyakan.
5) Riwayat Penyakit Keluarga
Peranan keluarga atau keturunan merupakan factor penyebab penting yang perlu dikaji yaitu penyakit berat yang pernah diderita salah satu anggota yang ada hubungannya dengan penyakit keturunan, misalnya: Tubercolosis paru, hipertensi, asma.
6) Pola Kebiasaan Sehari-hari
Lingkungan kotor seperti tempat tinggal di pinggir sungai dan memasak, mandi, mencuci, minum dengan memakai air sungai.
7) Pemeriksaan Fisik
a). Keadaan umum
Secara umum pada klien Gastroenteritis: baik, sadar (tanpa dehidrasi). Gelisah, rewel (dehidrasi ringan/sedang). Lesu, lunglai, atau tidak sadar (dehidrasi berat).
b). Kesadaran
Klien ditemukan dalam tingkat composmentis sampai koma.
c). Tanda-tanda Vital
Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan suhu tubuh, biasa normal dan juga bisa meningkat, nadi meningkat, tekanan darah menurun dan respirasi cepat dan dalam.
d). BB/TB
Penurunan Barat Badan (BB) atau kegagalan untuk meningkatkan berat badan.
e). Pemeriksaan Head to toes
(1). Kepala
(a). Rambut
Perlu dikaji tentang bentuk kepala, ubun yang cekung, kesemetrisan, keadaan kulit kepala, rambut agak tipis dan merah.
(b). Mata
Bentuk mata cowong, konjungtiva anemis, dan mata sayup. Klien yang diare tanpa dehidrasi, bentuk kelopak matanya normal, apabila mengalami dehidrasi ringan/sedang kelopak matanya cekung (cowong), sedangkan apabila mengalami dehidrasi berat kelopak matanya sangat cekung.
(c). Hidung
Ada tidaknya deviasi septum nasi, polip, serta bagaimana kebersihannya.
(d). Mulut
Mengeluh haus, mukosa bibir kering, kebersihan mulut kurang bersih.
• Mulut dan lidah basah (tanpa dehidrasi)
• Mulut dan lidah kering (dehidrasi ringan sedang)
• Mulut dan lidah sangat kering (dehidrasi berat)
(e). Telinga
Kesimetrisan, kebersihan, ada tidaknya kelaianan fungsi pendengaran ataupun kelainan anatomis.
(2). Leher
Ada tidaknya pembesaran kelenjar tyroid dan vena jugularis.
(3). Abdomen
Orang yang menderita diare terjadinya distensi abdomen, nyeri tekan, asites, terjadinya peningkatan bising usus, pembesaran hati dan limpa.
(4). Integument
Meliputi warna, kebersihan kulit, turgor kulit yang menurun.
(5). Thorax
Dikaji kesemetrisannya, ada tidaknya suara redup, pada perkusi, kesemetrisan ekspansi dada, ada tidaknya suara ronchi dan wheezing serta ada tidaknya penurunan suara nafas.
(6). Anus
Daerah anus merah oleh karena keseringan Buang Air Besar (BAB).
8) Pemeriksaan Penunjang
a). Pemeriksaan tinja: Makroskopis dan mikroskopis. PH dan kadar gula jika diduga ada intoleransi gula (sugar intolerence) biarkan kuman untuk mencari kuman penyebab dan uji resistensi terhadap berbagai antibiotika (pada diare persisten).
b). Pemeriksaan darah : Darah perifer lengkap, analisis gas darah dan elektrolit (terutama Na, K, Ca, dan P serum pada diare yang disertai kejang).
c). Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinim darah untuk mengetahui faal ginjal.
d). Duodenal intubation, untuk mengetahui kuman peenyebab secara kuantitatif dan kualitatif terutama pada diare kronik.
2.2.2 Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang menguraikan respon aktual atau potensial klien terhadap masalah kesehatan yang perawat mempunyai izin dan berkompeten untuk mengatasinya. Respon aktual dan potensial klien didapatkan dari data dasar pengkajian, tinjauan literatur yang berkaitan, catatan medis klien masa lalu dan konsultasi dengan profesional lain, yang kesemuanya dikumpulkan selama pengkajian. Hal terakhir adalah respon aktual atau potensial klien yang membutuhkan intervensi domain praktik keperawatan. (Perry & Potter. 2005).
Beberapa Diagnosa Medis pada penyakit Gastroenteritis menurut Donna (2000) adalah:
a. Defisit volume cairan berhubungan dengan intake yang kurang dan output yang berlebihan ditandai dengan BAB lebih dari 4 kali sehari, muntah, turgor kulit kering, nadi cepat, pernapasan meningkat.
b. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak adanya kekuatan absorpsi nutrisi ditandai dengan buang air besar menurun, buang air besar encer
c. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan buang air besar yang sering ditandai dengan kulit kemerahan pada area rectal.
d. Nyeri berhubungan dengan distensi abdomen ditandai dengan klien gelisah, bising usus hiperaktif.
e. Defisit pengetahuan tentang tanda-tanda komplikasi batasan diet berhubungan dengan informasi kurang.
2.2.3 Rencana Tindakan Keperawatan
Rencana tindakan keperawatan adalah perumusan tujuan, tindakan, dan penilaian rangkaian asuhan keperawatan pada pasien/klien berdasarkan analisis pengkajian agar masalah kesehatan dan keperawatan pasien dapat teratasi (Ali, 1997).


a. S : Spesifik (tujuan harus spesifik dan tidak menimbulkan arti ganda)
b. M : Measurable (tujuan keperawatan harus dapat diukur, khususnya tentang prilaku klien dapat dilihat, didengar, diraba, dirasakan, dan dibau)
c. A : Achievable (tujuan harus dapat dicapai)
d. R : Reasonable (tujuan harus dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah)
e. T : Time (tujuan keperawatan)
(Nursalam, 2001).
Tabel 2.6 Rencana Tindakan Keperawatan.
No Diagnosa Keperawatan Tujuan dan
Kriteria Hasil Intervensi Rasional
(1) (2) (3) (4) (5)
1. Defisit volume cairan berhubungan dengan intake yang kurang dan output yang berlebihan ditandai dengan BAB lebih dari 4x sehari, muntah Setelah dilakukan tindakan keperawatan, diharapkan:
mengalami perbaikan mukosa, mulut lembab, hasil lab dan output urine dalam batas normal sesuai umur dan berat badan klien kembali normal (sebelum sakit) 1.Monitor tanda vital setiap jam atau sesuai keperluan, laporkan ketidak harmonisan.

2.Monitor tanda-tanda peningkatan dehidrasi seperti hilangnya tugor kulit, mata cekung, nadi cepat, fontaneal lembek, BB menurun, membran mukosa kering, pengeluaran urine berkurang
3.Monitor intake dan Output secara Adkuat




4.Monitor keteraturan tetesan infus dann awasi posisinya setiap saat
5. Cek jumlah urine setiap 4 jam 1.1.Hipertensi takikardi, demam dapat menunjukan respon terhadap efek kehilangan cairan.

2.Indikator kehilangan cairan berlebihan atau dehidrasi

d




3.Memberikan Informasi tentang keseimbangan cairan, fungsi ginjal dan kontrol penyakit usus juga merupkan pedoman untuk mengganti cairan
4.Mempertahankan potensi dehidrasi interpena

5. Indikator keseimbangan cairan.

(1) (2) (3) (4) (5)
2






























Perubahan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak adanya kekuatan absorpsi ditandai dengan Berat badan menurun, penurunan masa otot, muntah, BAB encer. Setelah dilakukan tindakan keperawatan pada klien mampu mempertahankan berat badan, muntah berkurang, BAB tidak encer dengan criteria hasil : klien mendapat makanan dan cairan yang adkuat, pola eliminasi BAB klien normal. 1. Pemenuhan nutrisi peroral, memberikan oral higien.






2. Monitor total parental.





3. Mulai pemberian cairan per oral secara perlahan-lahan jika di ijinkan dengan menggunakan elektrolit yang diencerkan atau cairan sreril.

4. Perkenalan diet makanan padat (seperti pisang, nasi, manisan, apel, roti).

5. Ganti diet atau makanan sesuai dengan agen penyebab.

6. Laporkan reaksi diet baru, kambuhnya muntah atau diare

1. Makanan selama diare dapat merangsang penyerapan cairan selain memberikan zat makanan yang diperlukan mulut yang bersih dan meningkatkan rasa makan.

2. Mengistirahatkan saluran gastrointestinal namun tetap memberikan nutrisi yang penting bagi tubuh

3.Memungkinkan saluran khusus untuk memulai kembali proses pencernaan




4.Membantu pasien dalam mengidentifikasi-kan diet makan yang sesuai


5.Mencegah serangan akut atau ekserbasi gejala


6.Berguna dalam mengidentifikasi definisi yang spesifik dan mendapat respon gastrointestinal



(1) (2) (3) (4) (5)
3 Gangguan rasa nyaman nyeri yang berbungan dengan distensi abdomen, ditandai klien gelisah, bising usus hiperaktif Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien merasa nyaman dan distensi hilang dengan kriteria hasil: perut klien tidak tegang, distensi, klien tidak menunjukkan rasa nyeri baik secara verbal maupun non verbal, klien dapat tidur dengan nyenyak dan nyaman. 1. Atur posisi yang nyaman bagi klien, misalnya dengan lutut fleksi.
2. Lakukan aktivitas pengalihan untuk memberikan rasa nyaman seperti massase punggung dan kompres hangat abdomen.
3. Bersihkan area anorektal dengan sabun ringan dan air setelah defekasi dan berikan perawatan kulit.
4. Kolaborasi pemberian obat analgetika dan atau antikolinergik sesuai indikasi.


5. Kaji keluhan nyeri dengan Visual Analog Scale (skala 1-10), perubahan karakteristik nyeri, petunjuk verbal dan non verbal 1. Menurunkan tegangan permukaan abdomen dan mengurangi nyeri.

2. Meningkatkan relaksasi, mengalihkan fokus perhatian klien dan meningkatkan kemampuan koping.

3. Melindungi kulit dari keasaman feces.




4. Analgetik sebagai agen anti nyeri dan antikolinergik untuk menurunkan spasme traktus dapat diberikan sesuai indikasi klinis
5. Mengevaluasi perkembangan nyeri untuk menetapkan intervensi selanjutnya
4 Gangguan integritas kulit berhubungan dengan Buang air besar yang sering ditandai dengan kulit kemerahan Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien tidak mengalami kemerahan pada anus, tidak ada gangguan integritas kulit parianal dengan kriteria hasil: nyeri berkurang, tidak terdapat iritasi pada daerah anus dan terdapat lecet pada perirektal 1. Bersihkan daerah bokong dengan air hangat dan sabun lembut sehabis BAB.

2. Gunakan bedak obat untuk area tersebut, jangan menggunakan krim hidrokortison jika menggunakan celana dalam bahan nilon.

3. Biarkan daerah bokong terbuka selama  5 – 10 menit.


4. Gunakan lampu pemanas (60 watt) dengan jalan 15-18 dari area bokong selama 5-10 menit setiap 2-4 jam, olesi salep sebelum pemanasan
1.Melindungi kulit dari asam usus, mencegah ekskoriasi


2.Celana dari bahan nilon/plastik dapat meningkatkan absorpsi dari hidrokortison yang menimbulkan efek samping.

3.Kelembaban yang berlebihan dapat merusak kulit dan mempercepat luka.

4.Pemanasan dapat mengeringkan area bokong dan anus, pemberian salep akan mencegah rasa panas dan terbakar.



(1) (2) (3) (4) (5)
5 Defisit pengetahuan tentang tanda komplikasi batasan diet berhubungan dengan informasi kurang ditandai dengan klien sering bertanya. Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien secara verbal mengerti tentang batasan diet, potensial komplikasi dan metode pengobatan diare dengan criteria hasil: dapat mengetahui cara mencegah kekambuhan penyakit. Dengan cara dapat menunjukkan teknik cuci tangan dan sanitasi dengan benar dan klien juga dapat mengenal tanda-tanda bahaya diare dan dapat mengambil tindakan yang tepat yaitu dengan cara berobat ke tempat pelayanan kesehatan.
1.Instruksi keluarga klien dalam metode penyimpangan dan pemberian formula/makanan

2.Adakan konsultasi dengan ahli gizi jika memungkinkan


3.Ajarkan keluarga tentang manajemen diet pada muntah dan diare


4.Gunakan fakta dan contoh untuk mengajarkan cara mencuci tangan yang baik dan kebiasaan sanitasi.

5. Ajarkan tentang tanda-tanda diare/muntah (seperti: napsu makan berkurang, demam, perubahan pola nafas, urine bekurang). 1.Meningkatkan pemahaman dan partisipasi terhadap pengobatan


2.Untuk mendapat diet yang sesuai



3.Diharapkan keluarga klien dapat memberikan makanan yang dapat mencegah serangan akut

4. Mengurangi penyebaran bakteri dan resiko iritasi kulit atau infeksi




5.Memberikan pengetahuan dasar tentang penyakit diare dan perlunya untuk segera mencari tempat pelayanan kesehatan.





(Donna, 2000)
2.2.4 Tindakan Keperawatan
Yang dimaksud dengan tindakan keperawatan adalah suatu tahap dimana rencana keperawatan yang telah disusun diberikan kepada bayi sesuai dengan kebutuhan dan masalah yang dihadapi bayi (Dongoes, 2001).
Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik. Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditujukan untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan, yang mencakup peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan dan memfasilitasi koping. Ada tiga tahap dalam tindakan keperawatan yaitu: persiapan, perencanaan, dan dokumentasi (Nursalam, 2001).
Dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien, pada tahap implementasi, seorang perawat harus benar-benar memahami dan memiliki pengetahuan serta skill keperawatan mengenai tindakan yang dilakukan terhadap kasus yang sedang ditangani. Sehingga semua intervensi yang telah dirumuskan bisa dilakukan dengan baik dan bisa menyelesaikan masalah kesehatan yang dihadapi klien.
Setelah implementasi dilakukan oleh perawat, perawat harus mengawasi dan mendokumentasikan tindakan yang telah dilakukan sehingga nanti bisa dipertanggung jawabkan.
2.2.5 Evaluasi
Tahap evaluasi merupakan tahapan akhir pada proses keperawatan. Evaluasi adalah perbandingan hasil-hasil yang diamati dengan kriteria yang dibuat pada tahap intervensi (Dongoes, Marillyn, 2001).
Tahapan evaluasi keperawatan terdiri dari beberapa komponen, yaitu kriteria hasil, keefektifan tahap-tahap proses keperawatan dan perbaikan rencana asuhan keperawatan. Kerangka pembuatan kriteria hasil dibuat dalam bentuk SOAP (Subyektif, Obyektif, Assessment, Planning).
Adapun penjelasan lebih lanjut sebagai berikut :
a. S (subyektif), yaitu keluhan-keluhan klien (apa saja yang dikatakan klien, keluarga klien dan orang terdekat klien).
b. O (obyektif), yaitu segala sesuatu yang dapat dilihat, dicium, diraba, dan diukur oleh perawat.
c. A (analisis), yaitu suatu kesimpulan yang dirumuskan oleh perawat tentang kondisi klien.
d. P (planning), yaitu rencana tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah klien selanjutnya.
2.3 Dokumentasi Keperawatan
Dokumentasi keperawatan adalah bagian integral proses, bukan sesuatu yang berbeda dari metode problem solving. Dokumentasi mencakup pengkajian, identifikasi masalah, perencanaan, tindakan, evaluasi (Nursalam, 2001).
a. Dokumentasi Pengkajian Keperawatan
Dokumentasi pengkajian ditujukan pada data klinik dimana perawat dapat mengumpulkan dan mengorganisir dalam catatan kesehatan. Format pengkajian meliputi data dasar, flow sheets dan catatan perkembangan lainnya yang memungkinkan dapat sebagai alat komunikasi bagi tenaga keperawatan atau kesehatan lainnya. Petunjuk penulisan pengkajian :
1) Gunakan format yang sistimatis untuk mencatat pengkajian, yang meliputi:
a) Riwayat klien masuk rumah sakit
b) Respon klien yang berhubungan dengan persepsi kesehatan klien
c) Riwayat pengobatan
d) Data klien rujukan, pulang dan keuangan
2) Gunakan format yang telah tersusun untuk pencatatan pengkajian.
3) Kelompokkan data-data berdasarkan model pendekatan yang digunakan.
4) Tulis data obyektif tanpa bias (tanpa mengartikan).
5) Sertakan pernyataan yang mendukung interpretasi data obyektif.
6) Jelaskan observasi dan temuan secara sistematik, termasuk definisi karakteristiknya.
7) Ikuti aturan atau prosedur yang dipakai dan disepakati di instansinya.
8) Tuliskan secara jelas dan ringkas.
b. Dokumentasi Diagnosa Keperawatan
Sebagai bukti ukuran pencatatan perawat, pernyataan diagnosa keperawatan bahwa mengidentifikasi masalah aktual atau potensial penyebab maupun tanda dan gejala-gejala sebagai indikasi perlu untuk pelayanan perawatan, contoh:
1) Proses dan pencatatan diagnosa keperawatan dalam rencana dan di dalam catatan perkembangan.
2) Pemakaian dari forma PE (Problem Etiologi) untuk tiap masalah potensial.
3) Pengkajian data pada dokumen, semua faktor mayor untuk tiap diagnosa.
4) Dokumen dari pengkajian atau mengikuti diagnosa keperawatan yang tepat.
5) Ulangi data salah satu informasi pengkajian perawatan, sebagai perawat profesional dari kerjasama dengan staf pembuat diagnosa.
c. Dokumentasi Perencanaan Keperawatan
Fokus dari perencanaan adalah untuk menyusun rencana tindakan dengan pendekatan penyelesaian masalah. Melalui proses ini, perawat memprioritaskan dan membuat daftar masalah klien yang memerlukan intervensi keperawatan, menyusun hasil-hasil yang diharapkan, dan mengelola kondisi klien yang perlu segera intervensi keperawatan. Komponen penting dalam rencana tindakan keperawatan adalah diagnosa keperawatan, hasil yang diharapkan, dan rencana tindakan yang mengidentifikasi intervensi keperawatan.
d. Dokumentasi Tindakan Keperawatan
Komponen penting pada dokumentasi intervensi adalah mengidentifikasi mengapa sesuatu terjadi terhadap klien apa yang terjadi, kapan, bagaimana, dan siapa yang melakukan intervensi.
1) Why: harus dijelaskan alasan tindakan dilaksanakan dan data yang ada dari hasil dokumentasi pengkajian data diagnosa keperawatan.
2) What: ditulis secara jelas, ringkas dari pengobatan/tindakan dalam bentuk action verb.
3) When: pencatatan waktu pelaksanaan intervensi sangat penting dalam hal pertanggung jawaban hukum dan efektifitas tindakan tertentu.
4) How: tindakan dilaksanakan dalam penambahan pencatatan yang lebih detail. Menandakan suatu prinsip ilmiah dan rasional dari rencana tindakan.
5) Who: siapa yang melaksanakan intervensi yang harus selalu dituliskan pada dokumentasi serta tanda tangan sebagai pertanggung jawaban
e. Dokumentasi Evaluasi Keperawatan
Pernyataan evaluasi perlu didokumentasikan dalam catatan kemajuan, direvisi dalam perencanaan perawatan atau dimasukkan pada ringkasan khusus dan dalam pelaksanaan bentuk perencanaan.

No comments:

Post a Comment